Ujian, Kenapa Harus Nyontek (bagian. 1)
M. Dalhar*
Ujian akhir semester genap atau yang disebut Penilaian Akhir Kelas (PAK) hampir usai. Dalam perjalanannya, ujian selalu menyisakan drama. Mulai dari telatnya pembayaran, keterlambatan datang ke kelas, sampai menyontek saat uian.
Iya, mencontek saat ujian seakan sudah menjadi hal yang lumrah. Ia menjadi serba-serbi perjalanan belajar siswa sepanjang waktu. Tentu tidak sampai haram atau dosa sebagaimana mencuri. Ini adalah proses belajar.
Menjadi cerita tersendiri ketika mencontek dan “tertangkap” pengawas kerena kurang kewaspadaan. Atau mencontek salah membawa bahan dan tertangkap. Celaka.
Adanya oknum yang mencontek dapat ditelususri dari keinginan bahwa betiap siswa ingin mendapatkan hasil yang terbaik. Meskipun itu dengan mencontek, tidak menjadi masalah. Yang terpenting mendapatkan nilai yang terbaik. Kelengahan pengawasan menjadi hal yang lain, tetapi turut melanggengkan kebiasaan ini. Padahal, nilai bukan hanya dari hasil ujian semata, tetapi masih banyak kriteria yang lain: kedisiplinan, keterampilan, kejujuran, dan lain sebagainya. Itu pasti menjadi pertimbangan dalam penilaian, bukan hanya angka-angka hasil ujian.
Baca juga: Mengisi Waktu Luang yang Asyik dan Menarik
Dengan adanya wacana Kurikulum Merdeka menyadarkan kita semua bahwa setiap manusia memiliki karakteristik tersendiri. Potensi atau keunggulan yang dimiliki tidak dapat disamaratakan. Jika dulu pradigma yang dipakai adalah penyeragaman. Akan tetapi, sekarang dengan semakin kompleksnya kehidupan manusia, paradigma atau pandangan yang dipakai adalah keragaman. Beragam itu lebih indah. Kira-kira begitu.
Saya sebagai pengampu mata pelajaran (Mapel) Sejarah tidak menuntut para siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Tidak harus semua siswa mendapatkan nilai 100. Kerjakan dengan sungguh-sungguh dan jujur dalam ujian sudah menjadi nilai plus tersendiri. “Kerjakan semampunya, jangan semaunya.”
Jika semua anak mendapatkan nilai yang tinggi, seakan materi yang sudah disampaikan dapat dicerna dengan baik. Berbeda dengan sebaliknya. Akan ada iktikad evaluasi dari guru pengampu. Bisa jadi soalnya memang sulit, atau belum diajarkan, metode monotone, atau siswa jarang mengikuti pelajaran. Dari sini, evaluasi pembelajaran dapat dilakukan.
Apes. Di hari pertama PAK digelar, dalam mapel Sejarah sudah tercatat beberapa nama yang terbukti mencontek. Beberapa modul diamankan sebagai bukti. Cukup menggelisahkan. Para anak tidak percaya dengan kemampuannya sendiri. Jika mau membaca, menjawab soal-soal tidak begitu syulit. Padahal, sudah jelas bahwa hasil ujian bukan akhir dari segalanya. Minimal, dalam seumur hidup pernah berlatih untuk jujur dalam ujian.
Standarisasi “prestasi” menjadikan para siswa ingin mencapainya. Alhasil, segala cara dapat dilakukan, termasuk dengan mencontek. Proses ini sudah berjalan lama, sehingga rangking dalam bidang akademik menjadi patokan utama.
Hari ini orientasi pendidikan kita mulai bergeser. Banyak potensi siswa yang mulai diapresiasi. Keberanian presentasi, penelitian sederhana, catur, olahraga, dan masih banyak lainnya. Termasuk juga kejujuran. Begitu…
Bersambung….
*Redaktur mamuba.sch.id
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Ada Doa dan Harapan atas Piala yang Dibawa Pulang
Mamuba.sch.id- Mari kita bicara tentang apa yang terjadi di balik layar, jauh sebelum peluit wasit berbunyi. Di sana, di balik pintu rumah yang sederhana, ada seorang ibu yang jemarinya
Berpikir Positif dan Sabar dalam Menghadapi Ujian dan Cobaan
Oleh: Salma, Roudhotun Naviz Satuzzahroh, Zahra Raisyatul Jannah Mamuba.sch.id- Dalam menghadapi berbagai ujian atau cobaan hidup, sabar menjadi salah satu sifat yang harus d
Guru MA Matholiul Ulum Banjaragung Memberikan Metode "Rahasia" Menguasai Bahasa Arab
Mamuba.sch.id__Sebagai salah satu komponen penting di dalam Islam, bahasa Arab wajib dipelajari oleh umat islam untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, hadits, serta kitab-kitab karanga
Hari Santri 2024, Ada Banyak Kegiatan Siswa di Yatimu Banjaragung
Banjaragung – Memperingati Hari Santri Nasional (HSN) setiap 22 Oktober ada banyak kegiatan yang dilakukan oleh para santri, tidak terkecuali mereka yang belajar di Yayasan Tarbiy
Perpusnas Writer Festival 2024 di Jepara, Yook Buruan Gabung…!!!
Jepara – Sebuah penghormatan, Kabupaten Jepara mendapatkan kesempatan sebagai tuan rumah dalam kegiatan literasi nasional yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional (Perpusna
Dari Nikahan sampai Khataman
Mamuba.sch.id – Udara siang itu begitu panas. Tidak seperti biasanya, suhu di layar handphone mencapai 31 derajat celsius. Banyak yang merasa suhu tidak seperti biasanya. “
Sedekah Bumi Desa Banjaragung ke-22 Tahun, Karnaval Budaya Banyak Dinanti
Banjaragung – Bulan September ini ada sebuah peringatan bersama bagi seluruh masyarakat Desa Banjaragung, Bangsri, Jepara. Peringatan hari jadi desa menjadi tonggak penting perjal
Adaptif, MA Matholiul Ulum Banjaragung Gunakan Media Digital di Setiap Kelas
mamuba.sch.id – Mulai tahun ajaran 2024/2025, setiap ruang belajar atau Rombel di Madrasah Aliyah Matholiul Ulum Banjaragung (Mamuba) menggunakan TV Digital sebagai salah satu med
Siswa Mamuba Tampil dalam Kirab Lurub Langse di Banjaragung
Banjaragung – dalam rangka memeriahkan acara kirab yang dilaksanakan oleh masyarakat Banjaragung, perwakilan dari Madrasah Aliyah Banjaragung (Mamuba) turut memeriahkan acara ters
Implementasi Kurikulum Merdeka, Siswa Mamuba Diajak Belajar di Luar Kelas
mamuba.sch.id – Diberlakukannya Kurikulum Merdeka bagi kelas X, menjadikan setiap kegiatan siswa bernilai pembelajaran. Hal itu yang juga yang diterapkan di Madrasah Aliyah Mathol



