Yatimu, Berawal dari Madin Berkembang Menjadi Madrasah Ibtida'iyah (Bag. 2)
Mamuba.sch.id. Sekitar tahun 1958, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memberikan kesempatan pada pendidikan agama untuk membuka program Madrasah Wajib Belajar (MWB). Kesempatan itu tidak dilewatkan para pengurus madrasah diniyah.
Beberapa pengurus - untuk menyebut beberapa nama seperti mbah Marwan, Nasuha, Sofwan, Mahfud, Nur Hamid, Jahuri, Sujud, dan mbah Nursjid – berupaya untuk menjadikan madrasah formal. Pada waktu, mbah Marwan sebagai pengurus madrasah berkonsultasi dengan Kiai Fauzan terkait dengan upaya peningkatan status lembaga. Kiai Fauzan merupakan salah seorang tokoh yang memiliki pengalaman di bidang pendidikan tingkat Madrasah Ibtidaiyah di Bangsri. Atas saran dan dukungan yang diberikan pada tahun itu status lembaga ditingkatkan menjadi madrasah ibtidaiyah (MI).
baca juga: Yatimu, Pengelola Pendidikan Formal Tertua di Banjaragung (bag. 1)
Tidak berselang lama, pada 1965 Haji Zubaidi - ayah dari K.H. Afif - mewakafkan sebidang tanah seluas 160 meter persegi di sebelah barat rumahnya, sekarang tepatnya di sebelah barat Pesantren Darul Musyawaroh. Jargon anti-komunisme turut mewarnai semangat masyarakat dalam membesarkan Islam di Banjaran utara (baca: Banjaragung) melalui lembaga pendidikan. Hasilnya, atas kerjasama seluruh elemen masyarakat dapat berdiri gedung berdinding bata sebanyak enam lokal. Perkembangan juga tampak dari jumlah pengajar sebanyak 12 guru di tahun 1965 sampai 1967. Lulusan pesantren masih mendominasi sebagai pengajar di MI MU. Yang menarik, dari pengajar yang mengabdi tidak terbatas pada Desa Banjaran, tetapi juga ada guru yang beralamat di Wedelan, Kedunglepar, dan bahkan Mayong.

Gedung MI MU Klumo setelah renovasi beberapa kali (dok.ist)
Situasi tahun 1970-an relatif stabil semakin membuka kesadaran masyarakat Dukuh Klumo dan Sidomulyo. Donatur atau sumbangan dari masyarakat mengalir. Sebuah kantor dan satu lokal ditambahkan pada tahun itu juga. Sampai di tahun 1972, pengajar di MI MU 16 guru. Dari jumlah tersebut, sebagian besar berasal dari Banjaran. Hanya ada satu guru yang berasal dari Desa Srikandang. Lulusan pesantren tidak lagi mendominasi - hanya lima guru. Selebihnya adalah lulusan Madrasah Aliyah.
baca juga: Terbaru. Inilah Link Juknis Lomba Mapel 2022
Disahkannya Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri - Menteri Agama, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, dan Menteri Dalam Negeri - pada 1975 menjadikan madrasah semakin maju. Keputusan tersebut merupakan tonggak penting bagi perkembangan pendidikan agama atau madrasah. Secara garis besar keputusan membuka kesempatan bagi perkembangan madrasah. Salah satu dari sekian banyak hal penting adalah lulusan madrasah dapat melanjutkan pendidikan di tingkat lanjut atau negeri.
Dampak dari kebijakan pemerintah berdampak bagi masyarakat di bawah, terutama di pedesaan. Lambat laun kesadaran masyarakat tentang pentingnya pendidikan meningkatkan jumlah anak yang bersekolah. Keterbatasan sarana dan prasarana yang dimiliki, mengharuskan para pengurus membuat kebijakan sekolah dua sesi: pagi dan sore. Kondisi tersebut terus berlangsung sampai akhir tahun 2000-an awal. Bersambung….
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Ada Doa dan Harapan atas Piala yang Dibawa Pulang
Mamuba.sch.id- Mari kita bicara tentang apa yang terjadi di balik layar, jauh sebelum peluit wasit berbunyi. Di sana, di balik pintu rumah yang sederhana, ada seorang ibu yang jemarinya
Pembekalan Karya Tulis Ilmiah di MA Matholiul Ulum Banjaragung untuk Mengasah Nalar dan Keterampilan Menulis
Mamuba.sch.id- Dewan Guru di MA Matholiul Ulum Banjaragung menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa-siswi, khususnya dalam bidang penulisan karya tuli
MA Matholiul Ulum Banjaragung Menggelar Istighosah untuk Memperingati Hari Santri Nasional 2025
Mamuba.sch.id- Siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) Matholiul Ulum Banjaragung menggelar istighosah dan doa bersama dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Acara ini dilaksanakan
Guru MA Matholiul Ulum Banjaragung Memberikan Metode "Rahasia" Menguasai Bahasa Arab
Mamuba.sch.id__Sebagai salah satu komponen penting di dalam Islam, bahasa Arab wajib dipelajari oleh umat islam untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, hadits, serta kitab-kitab karanga
Program “Sorogan Sejarah” di Mamuba
MAMUBA.SCH.ID – Pelajaran sejarah tidak dapat dilepaskan dari pemahaman atas perjalanan waktu. Belajar sejarah tidak lagi tentang menghafal tahun, tetapi yang lebih penting adalah
Penelitian Sejarah, Siswa Ungkap Asal-Usul Lembaga di Yatimu Banjaragung
Banjaragung – Mengungkap peristiwa di masa lampau hal yang menarik sekaligus menantang. Menceritakan masa lalu bukan asal menyampaikan, tetapi harus disertai dengan bukti-bukti ya
Peringatan Sumpah Pemuda ke-96 di Mamuba dan Pemda Jepara
Jepara - Hari Sumpah Pemuda diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktober. Tahun 2024 ini, HSP telah memasuki peringatan yang ke-96 tahun. Tema besar yang diangkat adalah "Maju
Hari Kesaktian Pancasila, Inilah Sepotong Kisahnya
Banjaragung – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, seluruh siswa di Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum (Yatimu) Banjaragung melaksanakan upacara, Selasa (1/10). Upacara aka
Memahami Peristiwa 30 September, Inilah Enam Teorinya
Mamuba.sch.id - Peristiwa pada malam 30 September 1965 menjadi momen kelam dalam sejarah Indonesia. Bertahun-tahun usai peristiwa berdarah itu, muncul enam teori dalang peristiwa itu. A
Hari Bela Negara 19 September, Inilah Alasannya
“Sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia masih ada dan bertahan, maka dibentuklah PDRI. Ini sekaligus untuk menarik dukungan dari Internasional atas kemerdekaan Indonesia pada 17



