Bada Kupat, Yuk Kepoin Sejarah dan Filosofinya (bag.3)
Mamuba.sch.id. Waktu terus berjalan. Lebaran atau orang Jawa menyebutnya bada telah memasuki hari ke-8. Bagi masyarakat Jepara hari tersebut adalah waktu dilaksanakannya tradisi lomban atau kupatan. Makan kupat dan lepet serta melaksanakan acara di pantai. Tradisi ini dapat berubah sesuai dengan selara zamannya.
Dikutip dari laman NU Online, masyarakat Jawa mempercayai lebaran ketupat diperkenalkan pertama kali oleh Sunan Kalijaga akhir abad ke-15. Tradisi tersebut muncul pada era Wali Songo di mana masyarakat Nusantara sering mengadakan tradisi slametan.
Sunan Kalijaga memperkenalkan dua istilah yaitu (pertama) Bada Lebaran yang merupakan tradisi silaturahmi dan bermaaf-maafan setelah sholat Idul Fitri, dan (kedua) Bada Kupat (Lebaran Ketupat) yang merupakan perayaan sepekan setelah Idul Fitri.
Baca juga: Menelusuri Asal-Muasal Tradisi Halal Bihalal (bag.1)
Lebaran Ketupat diperkenalkan Sunan Kalijaga sebagai pelengkap puasa Ramadhan untuk menggenapkan perhitungan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Oleh karena itu, diadakan perayaan lebaran Lebaran Ketupat sebagai hari kemenangan telah dilaksanakannya Syawal yang keutamaannya sama dengan puasa selama satu tahun.
Tradisi lebaran ketupat kemudian dijadikan sebagai sarana untuk mengenalkan ajaran Islam tentang cara bersyukur kepada Allah SWT, bersedekah, dan bersilaturahmi di hari lebaran.
Makna Lebaran Ketupat
Tujuan perayaan Lebaran Ketupat tidak terlepas dari makna filosofis ketupat. Menurut buku 'Fenomena Sosial Keagamaan Masyarakat Jawa dalam Kajian Sosiologi' (2021) oleh Lilik Setiawan dkk, ketupat melambangkan simbol permintaan maaf dan juga keberkahan.

Bahan utama ketupat, yaitu nasi dan daun kelapa muda, memiliki arti khusus. Nasi dianggap sebagai lambang nafsu, sedangkan daun kelapa muda atau janur melambangkan jati ning nur yang artinya hati nurani.
Melalui simbolisasi ketupat tersebut, manusia diharapkan mampu menahan nafsu dunia dengan hati nuraninya. Selain itu ketupat juga didefinisikan sebagai jarwa dhosok atau berarti ngaku lepat. Terdapat pesan bahwa seseorang harus meminta maaf ketika mereka melakukan sesuatu yang salah.
Bungkus ketupat yang terbuat dari janur kuning melambangkan penolak bala bagi orang Jawa. Ketupat yang sudah matang akan digantung di atas kusen pintu depan rumah dalam jangka waktu berhari-hari bahkan berbulan-bulan sampai kering.
Baca juga: Kiai Wahab Hasbullah, Pencetus Nama Halal Bihalal (bag.2)
Bentuk segi empat ketupat mencerminkan prinsip kiblat papat lima pancer yang bermakna bahwa kemanapun manusia menuju, pasti selalu kembali kepada Allah.
Anyaman ketupat yang rumit juga dimaknai sebagai cerminan dari berbagai macam kesalahan manusia. Sedangkan warna putih ketupat ketika dibelah dua mencerminkan kebersihan dan kesucian setelah memohon ampun dari kesalahan.
Lebaran Ketupat merupakan perayaan yang menjadi penyempurna momen kemenangan Idul Fitri. Selain itu, Lebaran Ketupat terus dirayakan setiap tahunnya karena mengandung filosofis yang begitu bermakna bagi kehidupan masyarakat Jawa.
Editor: md
Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
MA Matholiul Ulum Banjaragung Peringati Hari Santri Nasional dengan Istighosah Kesantrian
Mamuba.sch.id- Madrasah Aliyah Matholiul Ulum Banjaragung memperingati Hari Santri Nasional dengan menggelar Istighosah Kesantrian. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis, 22 Oktobe
Peringati Hari Olahraga Nasional, Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum Banjaragung Gelar Jalan Sehat
Mamuba.sch.id- Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum Banjaragung menggelar kegiatan Jalan Sehat dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional (Haornas) 2026. Kegiatan ini komp
MA Matholiul Ulum Banjaragung Semarakkan Maulid Nabi dengan Shalawat dan Kajian Kitab
Mamuba.sch.id- MA Matholiul Ulum Banjaragung menggelar Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada Senin (24/8/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 07.00 WIB tersebut diikuti oleh para murid
Di Bawah Langit Malam, Sepuluh Obor Menyalakan Satu Tekad
Mamuba.sch.id- Malam itu, langit di atas halaman MA Matholiul Ulum Banjaragung seperti ikut menahan napas. Pukul 19.30 WIB, keheningan malam pecah bukan oleh sorak-sorai, melainkan
MAKESTA Warnai MATAMUDA 2026 MA Matholiul Ulum Banjaragung
Mamuba.sch.id- Masa Kesetiaan Anggota (MAKESTA) menjadi salah satu rangkaian acara yang mewarnai Masa Ta'aruf Murid Baru (MATAMUDA) 2026 MA Matholiul Ulum Banjaragung. Kegiatan ini
MA Matholiul Ulum Banjaragung Gelar Tes Wawancara Potensi Akademik dan Baca Al-Qur'an Bagi Murid Baru
Mamuba.sch.id- MA Matholiul Ulum Banjaragung menggelar Tes Wawancara Potensi Akademik dan Tes Baca Al-Qur'an sebagai bagian dari rangkaian Penerimaan Murid Baru Madrasah (PMBM) tah
Panitia MATAMUDA 2026 MA Matholiul Ulum Banjaragung Ikuti Pelatihan, Siap Sambut Peserta Didik Baru
Mamuba.sch.id- Panitia Masa Ta'aruf Peserta Didik Baru (MATAMUDA) 2026 MA Matholiul Ulum Banjaragung mengikuti pelatihan selama dua hari, yakni pada 7-8 Juli 2026. Pelatihan ini di
Tiga Peserta Didik MA Matholiul Ulum Banjaragung Lolos Seleksi UMPTKIN, Tembus Kampus Negeri Ternama
Mamuba.sch.id- Kabar membanggakan kembali datang dari MA Matholiul Ulum Banjaragung. Sebanyak tiga peserta didiknya dinyatakan lulus seleksi Ujian Masuk Perguruan Tinggi Keagamaan
MA Matholiul Ulum Banjaragung Gelar LPJ Sambil Rekreasi di Bendungan Logung Kudus
Mamuba.sch.id- Madrasah Aliyah Matholiul Ulum Banjaragung melaksanakan Laporan Pertanggungjawaban (LPJ) dengan konsep berbeda, yakni dipadukan dengan kegiatan rekreasi di Bendungan
MA Matholiul Ulum Banjaragung Teken MoU dengan LPK Andy dan Ahass Muncul Jaya Motor
Mamuba.sch.id- Madrasah Aliyah Matholiul Ulum Banjaragung resmi menjalin kerja sama strategis dengan dua lembaga mitra, yakni Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) Andy dan Ahass Muncul Ja




Jadi lebih memahami makna ketupat