Berdirinya MTs, Berawal dari Keraguan menjadi Penuh Keyakinan (bag. 4)
Mamuba.sch.id. Seiring berjalannya waktu, iklim pendidikan mulai dapat dirasakan oleh masyarakat luas terutama di Banjaran utara (baca: Banjaragung). Setamat dari madrasah ibtidaiyah (MI), ada sebagian yang melanjutkan ke luar daerah. Di Bangsri adalah yang paling dekat.
Pemandangan yang sering terlihat adalah setiap pagi dari pertigaan Klumo-Wedelan. Tampak beberapa anak bersekolah naik bis umum jurusan Pati-Jepara. Siang atau sore hari baru pulang sekolah. Dari jalan raya sampai ke rumah rata-rata anak berjalan kaki. Kendaraan jarang ditemui pada waktu itu, awal 1980-an.
Baca juga: Yatimu, Pengelola Pendidikan Formal Tertua di Banjaragung (bag. 1)
Kondisi semacam itu menjadikan sebagian pengurus berinisiatif untuk membuka lembaga pendidikan MTs. Tujuan utamanya adalah agar anak-anak tidak terlampau jauh untuk bersekolah setamat MI. Wacana tersebut tidak sepenuhnya mendapatkan sambutan positif. Persoalan terkait pengelolaan, peminat, dan pembiayaan menjadi hal yang mengemuka waktu itu. Muncul tanggapan-tanggapan dari luar yang bernada negatif. “Di desa buat sekolah, mau jadi apa.”
Dengan niat yang baik dan tekad serta hasil musyawarah, pada 1986 dibuka pendidikan tingkat lanjut, yaitu madrasah tsanawiyah (MTs) Matholiul Ulum. Harapannya para anak lulusan dari MI dapat melanjutkan tanpa harus bersusah payah ke luar daerah. Terlebih lagi kondisi perekonomian masyarakat pada waktu itu dapat dikatakan sebagian besar menengah ke bawah.
Baca juga: Yatimu, Berawal dari Madin Berkembang Menjadi Madrasah Ibtida'iyah (Bag. 2)
Pada awal berdirinya, administrasi perkantoran dan tempat belajar siswa ditempatkan di gedung MI yang sudah tersedia. Sebagian besar muridnya adalah lulusan dari MI MU. Murid-murid dari luar daerah atau sekolah dasar (SD) terlebih dahulu bersekolah diniyah kurang lebih satu tahun sebagai persiapan menuju ke jenjang pendidikan MTs.
Sekolah diniyah diasuh oleh Haji Ali dan Kiai Afif. Sekolah sore bertempat di pojok barat rumah mbah Ali. Sekarang dipakai sebagai aula pengajian Selosonan. Sekolah ini tidak menjadi bagian dari Matholiul Ulum maupun Darul Musyawaroh. Pendidikan tersebut difungsikan untuk membantu para siswa sebelum masuk ke jenjang MTs. Tidak ada administrasi yang bersifat ketat - seperti presensi atau keuangan - karena sekolah didesain bersifat membantu, terutama pelajaran agama. Sebagian dari siswa ada yang pulang-pergi (santri kalong) dan sebagian yang lain nyantri di Darul Musyawaroh.
Jabatan kepala MTs yang baru didirikan diserahkan kepada Kiai Afif Zubaidi. Periode selanjutnya dijabat oleh Haji Ali Hamim atau mbah Ali. Rangkap jabatan pengajar di MI dan MTs adalah cara yang ditempuh untuk mengisi kekurangan pengajar. Di samping jumlah guru, Kebutuhan ruang kelas yang memadahi menjadi tuntutan yang tidak dapat diabaikan.
Baca juga: Kehadiran TK Melengkapi Madrasah Ibtidaiyah (bag.3)
Seiring berjalannya waktu jumlah murid semakin bertambah. Sekitar tahun 1980-an akhir, sebidang tanah diwakafkan oleh Ibu Panisih (baca: Hj. Farihah) - adik mbah Ali - untuk gedung MTs. Pembangunan dilakukan secara bertahap. Menjelang tahun 1990-an gedung baru lantai satu sudah dapat ditempati dengan kondisi ala kadarnya.
Kondisi gedung digambarkan dengan kondisi lantai tanah dengan meja dan kursi model bangku. Satu bangku dapat diisi dua sampai tiga siswa. Sebagian pintu kelas terbuat dari triplek. Dapat dikatakan pada waktu itu jumlah siswanya banyak mencapai ratusan. Mengingat di Jepara bagian timur belum banyak berkembang lembaga pendidikan. Sampai di tahun 1990-an awal siswa MTs MU berasal dari berbagai daerah seperti: Kancilan, Cepogo, Keling, Bumiharjo, Donorojo, dan bahkan Mlonggo (Bersambung…).
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Ada Doa dan Harapan atas Piala yang Dibawa Pulang
Mamuba.sch.id- Mari kita bicara tentang apa yang terjadi di balik layar, jauh sebelum peluit wasit berbunyi. Di sana, di balik pintu rumah yang sederhana, ada seorang ibu yang jemarinya
Pembekalan Karya Tulis Ilmiah di MA Matholiul Ulum Banjaragung untuk Mengasah Nalar dan Keterampilan Menulis
Mamuba.sch.id- Dewan Guru di MA Matholiul Ulum Banjaragung menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa-siswi, khususnya dalam bidang penulisan karya tuli
MA Matholiul Ulum Banjaragung Menggelar Istighosah untuk Memperingati Hari Santri Nasional 2025
Mamuba.sch.id- Siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) Matholiul Ulum Banjaragung menggelar istighosah dan doa bersama dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Acara ini dilaksanakan
Guru MA Matholiul Ulum Banjaragung Memberikan Metode "Rahasia" Menguasai Bahasa Arab
Mamuba.sch.id__Sebagai salah satu komponen penting di dalam Islam, bahasa Arab wajib dipelajari oleh umat islam untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, hadits, serta kitab-kitab karanga
Program “Sorogan Sejarah” di Mamuba
MAMUBA.SCH.ID – Pelajaran sejarah tidak dapat dilepaskan dari pemahaman atas perjalanan waktu. Belajar sejarah tidak lagi tentang menghafal tahun, tetapi yang lebih penting adalah
Penelitian Sejarah, Siswa Ungkap Asal-Usul Lembaga di Yatimu Banjaragung
Banjaragung – Mengungkap peristiwa di masa lampau hal yang menarik sekaligus menantang. Menceritakan masa lalu bukan asal menyampaikan, tetapi harus disertai dengan bukti-bukti ya
Peringatan Sumpah Pemuda ke-96 di Mamuba dan Pemda Jepara
Jepara - Hari Sumpah Pemuda diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktober. Tahun 2024 ini, HSP telah memasuki peringatan yang ke-96 tahun. Tema besar yang diangkat adalah "Maju
Hari Kesaktian Pancasila, Inilah Sepotong Kisahnya
Banjaragung – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, seluruh siswa di Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum (Yatimu) Banjaragung melaksanakan upacara, Selasa (1/10). Upacara aka
Memahami Peristiwa 30 September, Inilah Enam Teorinya
Mamuba.sch.id - Peristiwa pada malam 30 September 1965 menjadi momen kelam dalam sejarah Indonesia. Bertahun-tahun usai peristiwa berdarah itu, muncul enam teori dalang peristiwa itu. A
Hari Bela Negara 19 September, Inilah Alasannya
“Sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia masih ada dan bertahan, maka dibentuklah PDRI. Ini sekaligus untuk menarik dukungan dari Internasional atas kemerdekaan Indonesia pada 17



