Yatimu, Pengelola Pendidikan Formal Tertua di Banjaragung (bag. 1)
Mamuba.sch.id. Madrasah Aliyah Matholiul Ulum Banjaragung (Mamuba) merupakan lembaga yang didirikan pada tahun 2001. Merupakan lembaga pendidikan generasi akhir yang berada di bawah naungan Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum (Yatimu) Banjaragung.
Buku berwarna kuning dengan motif batik tersimpan rapi di dalam map. Di bawah tumpukan dokumen lembaga, buku itu terlihat paling tua di antara dokumen yang lain. Buku itu dapat dikatakan sebagai sumber primer atas kesaksian dari pelaku sekaligus saksi berdirinya salah satu lembaga pendidikan di Desa Banjaragung.
Barangkali ada rencana jangka panjang dari penulis buku - Kiai Marwan - untuk menuliskan riwayat berdirinya lembaga pendidikan formal pertama di Banjaragung. Bertahun-tahun buku itu tersimpan rapi di rak buku perpustakaan Mamuba. Sejak ditulis, tertanggal 1 April 2001, buku ini semacam menjadi agenda penting yang belum tertunaikan. Meskipun hanya catatan secara garis besar, catatan tersebut sangat penting untuk merekonstruksi perjalanan Yatimu.
baca juga: Menuju Madrasah Digital, PAS Digelar dengan CAT
Isinya merupakan sumber penting - jika bukan satu-satunya - yang dapat digunakan untuk merekonstruksi dan menjelaskan dinamika berdirinya Yatimu Banjaragung. Dari buku tersebut tidak banyak cerita yang dituliskan, tetapi lebih pada tabel yang berisi susunan pengurus dan pengajar dalam periode tertentu. Hal semacam itu yang membutuhkan penjelasan lebih lanjut agar informasi yang disajikan menjadi utuh.
Berawal dari Madin
Sampai tahun 1950-an akhir tidak ditemukan adanya pendidikan moderen dengan sistem kelas di Banjaran Utara (baca: Banjaragung). Pendidikan yang berjalan di tengah masyarakat adalah pendidikan masjid atau surau. Momentumnya pada pertengahan 1957, atas kesepakatan para tokoh masyarakat Dukuh Klumo dan Sidomulyo, Banjaragung, didirikan sebuah lembaga pendidikan yaitu madrasah diniyah.
Madrasah dirikan bersamaan dengan tren perkembangan dunia pendidikan dan sebagai jawaban atas tantangan zaman pada waktu itu, khususnya bagi masyarakat Dukuh Klumo dan Sregemeng (baca: Sidomulyo). Lokasi madrasah pada awalnya ditempatkan di rumah Haji Fathoni. Ia adalah ayah dari bapak Ridwan Klumo yang menyumbangkan sebidang tanah untuk Gedung Nahdlatul Ulama.
Susunan pengurus Madrasah Diniyah periode awal tahun 1957-1959 masih sangat sederhana. Hanya terdiri beberapa orang untuk mengelola lembaga pendidikan pertama di Dukuh Klumo dan Sidomulyo. Para pengurus kemudian merekrut para pemuda yang sebagian besar adalah alumnus dari pesantren untuk mengajar. Pada tahun pertama hanya terdapat lima pengajar, antara lain: Nasuha (kepala madrasah), Baini (wakil kepala), Yazid, Sofwan, dan Kemat (ketiganya anggota).
baca juga: Link Pengerjaan UAS Gasal 2022/2023 Mamuba
Setiap Kamis akhir bulan, para pengurus mengadakan rapat dengan para dewan guru untuk membahas perkembangan madrasah. Atas kerja sama yang baik antara madrasah dengan mayarakat, dari waktu ke waktu jumlah murid yang belajar semakin bertambah. Sampai-sampai rumah bambu yang digunakan sebagai kelas sesak, tidak memuat jumlah siswa yang ada.
Melihat kondisi yang demikian, tahun 1957 ibu Seni, salah seorang warga Dukuh Klumo mewakafkan sebidang tanah untuk gedung madrasah. Tanah itu berada di sebelah utara Masjid Syuhada al-Kautsar. Tidak lama kemudian panitia memanfaatkan lahan sebagai tempat belajar. Bangunan sekolah dibuat dari anyaman bambu. Meja dan kursi masih sederhana dengan beralaskan tanah. Bersamaan pembangunan gedung, perbaikan demi perbaikan dilakukan pengurus madrasah. Termasuk juga pemberian nama diberikan yaitu Matholiul Ulum yang artinya kurang lebih "tempat atau sumbernya ilmu-ilmu". Bersambung…..
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Ada Doa dan Harapan atas Piala yang Dibawa Pulang
Mamuba.sch.id- Mari kita bicara tentang apa yang terjadi di balik layar, jauh sebelum peluit wasit berbunyi. Di sana, di balik pintu rumah yang sederhana, ada seorang ibu yang jemarinya
Pembekalan Karya Tulis Ilmiah di MA Matholiul Ulum Banjaragung untuk Mengasah Nalar dan Keterampilan Menulis
Mamuba.sch.id- Dewan Guru di MA Matholiul Ulum Banjaragung menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa-siswi, khususnya dalam bidang penulisan karya tuli
MA Matholiul Ulum Banjaragung Menggelar Istighosah untuk Memperingati Hari Santri Nasional 2025
Mamuba.sch.id- Siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) Matholiul Ulum Banjaragung menggelar istighosah dan doa bersama dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Acara ini dilaksanakan
Guru MA Matholiul Ulum Banjaragung Memberikan Metode "Rahasia" Menguasai Bahasa Arab
Mamuba.sch.id__Sebagai salah satu komponen penting di dalam Islam, bahasa Arab wajib dipelajari oleh umat islam untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, hadits, serta kitab-kitab karanga
Program “Sorogan Sejarah” di Mamuba
MAMUBA.SCH.ID – Pelajaran sejarah tidak dapat dilepaskan dari pemahaman atas perjalanan waktu. Belajar sejarah tidak lagi tentang menghafal tahun, tetapi yang lebih penting adalah
Penelitian Sejarah, Siswa Ungkap Asal-Usul Lembaga di Yatimu Banjaragung
Banjaragung – Mengungkap peristiwa di masa lampau hal yang menarik sekaligus menantang. Menceritakan masa lalu bukan asal menyampaikan, tetapi harus disertai dengan bukti-bukti ya
Peringatan Sumpah Pemuda ke-96 di Mamuba dan Pemda Jepara
Jepara - Hari Sumpah Pemuda diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktober. Tahun 2024 ini, HSP telah memasuki peringatan yang ke-96 tahun. Tema besar yang diangkat adalah "Maju
Hari Kesaktian Pancasila, Inilah Sepotong Kisahnya
Banjaragung – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, seluruh siswa di Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum (Yatimu) Banjaragung melaksanakan upacara, Selasa (1/10). Upacara aka
Memahami Peristiwa 30 September, Inilah Enam Teorinya
Mamuba.sch.id - Peristiwa pada malam 30 September 1965 menjadi momen kelam dalam sejarah Indonesia. Bertahun-tahun usai peristiwa berdarah itu, muncul enam teori dalang peristiwa itu. A
Hari Bela Negara 19 September, Inilah Alasannya
“Sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia masih ada dan bertahan, maka dibentuklah PDRI. Ini sekaligus untuk menarik dukungan dari Internasional atas kemerdekaan Indonesia pada 17



