Optimisme Baru, Berdirinya Mamuba (bag. 6)
Mamuba.sch.id. Keheningan pagi pecah dengan suara anak-anak sekolah. Mereka berjalan secara berkelompok dari berbagai penjuru menuju Dukuh Klumo. Ada juga yang berboncengan menggunakan sepeda motor. Sepanjang jalan tampak ramai anak-anak berseragam.
Itulah sedikit gambaran suasana pagi di kompleks lembaga pendidikan yang dikelola oleh Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulmum (Yatimu). Ada beberapa lembaga, antara lain: TK, MI, dan MTs. Masing-masing lembaga memiliki dinamika dan kekhasan tersendiri.
Baca juga: Yatimu, Pengelola Pendidikan Formal Tertua di Banjaragung (bag. 1)
Memasuki tahun 2000, kebutuhan lembaga tingkat lanjut - madrasah Aliyah - dinilai penting kehadirannya oleh para pengurus yayasan. Manis pahit pengalaman sudah dirasakan oleh para pengurus. Momentumnya, pada 11 April 2001, para pengurus yayasan mengadakan suatu rapat untuk menggagas berdirinya madrasah aliyah. Ada nuansa optimisme dengan berdirinya lembaga baru tingkat lanjut.
Sebagaimana yang sudah menjadi kebiasaan, musyawarah menjadi bagian yang tidak dipisahkan dalam pengambilan keputusan. Terlebih lagi adalah untuk pendirian lembaga baru dalam waktu jangka panjang.
Rapat atau musyawarah ditempatkan di gedung MTs MU. Tidak hanya oleh para pengurus yayasan, tetapi juga dihadiri perwakilan tokoh dari beberapa desa antara lain: Desa Jenggotan, Wedelan, Kancilan, Tubanan, Pendem, Cepogo, Bucu, dan Sumanding. Dari desa-desa tersebut sebagian besar siswa di Yatimu berasal. Dan, hasil kesepakatan rapat saat itu disepakati oleh para tamu undangan tentang berdirinya Madrasah Aliyah (MA) MU.
Baca juga: Yatimu, Berawal dari Madin Berkembang Menjadi Madrasah Ibtida'iyah (Bag. 2)
Tidak begitu banyak kendala ketika MA dirintis. Dengan bermacam keterbatasan, secara resmi tahun 2001 dibuka sebagai tahun ajaran yang perdana. Drs. Syaiful Hadi ditunjuk sebagai kepala madrasah bersama dengan beberapa guru sekaligus merangkap sebagai pengurus madrasah.
Angkatan pertama siswa MA ditempatkan di gedung MTs MU. Mereka masuk pada siang hari setelah kegiatan belajar mengajar di MTs selesai. Kondisi semacam itu berlangsung selama beberapa tahun. Selanjutnya, gedung MI utara di kompleks masjid Syuhada al-Kautsar juga dimanfaatkan sebagai ruang belajar dan kantor sementara.

Pembangunan gedung Mamuba (dok.ist)
Sebidang tanah yang diwakafkan oleh Ibu Senimah – Nyi Cimah – digunakan sebagai gedung madrasah Aliyah. Lokasinya berada di sebelah timur MTs MU. Penggalian dana dilakukan oleh pengurus. Secara bertahap pembangunan dilakukan dan para siswa pun dapat belajar di gedung tersendiri.
Pembangunan gedung belum sempurna. Pada saat akan ditempati, puluhan siswa “boyongan” ke gedung baru. Secara bergotong royong mereka membawa meja dan kursi dengan berjalan kaki dari MI di utara menuju ke gedung baru. Jaraknya hampir mencapai satu kilometer. Antusiasme tergambar jelas dari wajah para siswa. Menempati gedung baru permanen adalah langkah awal. Perbaikan dan pengembangan selanjutnya dapat dilakukan di tempat yang baru. (bersambung…)
Komentar
Komentari Tulisan Ini
Tulisan Lainnya
Ada Doa dan Harapan atas Piala yang Dibawa Pulang
Mamuba.sch.id- Mari kita bicara tentang apa yang terjadi di balik layar, jauh sebelum peluit wasit berbunyi. Di sana, di balik pintu rumah yang sederhana, ada seorang ibu yang jemarinya
Pembekalan Karya Tulis Ilmiah di MA Matholiul Ulum Banjaragung untuk Mengasah Nalar dan Keterampilan Menulis
Mamuba.sch.id- Dewan Guru di MA Matholiul Ulum Banjaragung menunjukkan komitmen kuat dalam mengembangkan kemampuan akademik siswa-siswi, khususnya dalam bidang penulisan karya tuli
MA Matholiul Ulum Banjaragung Menggelar Istighosah untuk Memperingati Hari Santri Nasional 2025
Mamuba.sch.id- Siswa-siswi Madrasah Aliyah (MA) Matholiul Ulum Banjaragung menggelar istighosah dan doa bersama dalam rangka Hari Santri Nasional (HSN) 2025. Acara ini dilaksanakan
Guru MA Matholiul Ulum Banjaragung Memberikan Metode "Rahasia" Menguasai Bahasa Arab
Mamuba.sch.id__Sebagai salah satu komponen penting di dalam Islam, bahasa Arab wajib dipelajari oleh umat islam untuk memahami isi kandungan Al-Qur'an, hadits, serta kitab-kitab karanga
Program “Sorogan Sejarah” di Mamuba
MAMUBA.SCH.ID – Pelajaran sejarah tidak dapat dilepaskan dari pemahaman atas perjalanan waktu. Belajar sejarah tidak lagi tentang menghafal tahun, tetapi yang lebih penting adalah
Penelitian Sejarah, Siswa Ungkap Asal-Usul Lembaga di Yatimu Banjaragung
Banjaragung – Mengungkap peristiwa di masa lampau hal yang menarik sekaligus menantang. Menceritakan masa lalu bukan asal menyampaikan, tetapi harus disertai dengan bukti-bukti ya
Peringatan Sumpah Pemuda ke-96 di Mamuba dan Pemda Jepara
Jepara - Hari Sumpah Pemuda diperingati bangsa Indonesia setiap tanggal 28 Oktober. Tahun 2024 ini, HSP telah memasuki peringatan yang ke-96 tahun. Tema besar yang diangkat adalah "Maju
Hari Kesaktian Pancasila, Inilah Sepotong Kisahnya
Banjaragung – Memperingati Hari Kesaktian Pancasila, seluruh siswa di Yayasan Tarbiyatul Islam Matholiul Ulum (Yatimu) Banjaragung melaksanakan upacara, Selasa (1/10). Upacara aka
Memahami Peristiwa 30 September, Inilah Enam Teorinya
Mamuba.sch.id - Peristiwa pada malam 30 September 1965 menjadi momen kelam dalam sejarah Indonesia. Bertahun-tahun usai peristiwa berdarah itu, muncul enam teori dalang peristiwa itu. A
Hari Bela Negara 19 September, Inilah Alasannya
“Sebagai bukti bahwa pemerintah Indonesia masih ada dan bertahan, maka dibentuklah PDRI. Ini sekaligus untuk menarik dukungan dari Internasional atas kemerdekaan Indonesia pada 17




Memory mamuba